picture by prosperityedwell.com
Waktu menunjukan 17:00, tak biasanya ayah pulang lewat dari jam 4 dan om Irfan juga tak biasanya masih di rumahku. Tiba-tiba ibuku memanggil
“Ren, tolong belikan kecap dan lada diwarung depan”
“baik bu”. jawabku
Ketika melewati depan gang, aku melihat sosok yang tidak
asing. Ya, ayah ku baru pulang bekerja dengan mengayuh sepeda nya. Tampak
wajahnya yang lelah dan penuh keringat bertatapan dengan ku. Ada firasat tidak
enak sebenarnya ketika melihat ayah barusan, tapi aku hanya hiraukan dan terus
berjalan ke warung lalu kembali pulang.
Belum sempat aku mengetuk pintu, suara ayah dari dalam terdengar sampai luar dengan nada keras.
“Lalu kita tinggal dimana pak? Kita tinggal berempat loh”
Ku beranikan diri untuk mengetuk pintu lalu masuk dan menuju
dapur kemudian menaruh kecap dan lada yang ibu suruh tadi. Aku tidak berani
untuk menghampiri ibu dan ayahku yang sedang berbicara dengan om Irfan diruang
depan, hanya bisa mendengar sayup-sayup pembicaraan mereka dari dapur saja. Dan
yang jelas ku ingat adalah ketika ayah berbicara
“Baiklah, kami akan kemasi barang-barang dari rumah ini”
Hati siapa yang tidak sedih ketika harus pindah rumah dalam
keadaan ekonomi yang belum stabil seperti ini, aku pikir om Irfan orang baik
tapi ternyata dia yang menyuruh kami untuk pindah rumah dari sini, pikir ku
tanpa bicara. Kemudian malam harinya kami mengemas dan memberesi barang yang
ada dirumah itu tanpa banyak bicara.
Pikir ku, kenapa kita pindah dalam waktu yang cepat padahal
sebelumnya kami baik-baik saja disini. Apa mungkin ibu punya hutang kepada om
Irfan sehingga harus menjual rumah. Aku menyesal karena telah mempertemukan om
Irfan dengan ibu dan ayah.
Minggu berganti Senin, tidak seperti biasanya ayah ingin
mengantarkan ku sekolah pagi hari karena ia bekerja jam 7 harus sudah di
pabrik. Kami menaiki sepeda usang ayah menuju sekolah, dan percakapan yang ku
ingat adalah
Aku : “Yah, kok tumben nganter aku sekolah ? Emang ga telat
kerjanya?
Ayah : “Nak, ayah mulai hari ini sudah tidak bekerja lagi di
pabrik”
Aku : “Kenapa yah? Terus ayah bekerja dimana?” ujarku penuh
penasaran
Ayah : “Nanti saja ceritanya pas udah pulang sekolah yah
nak”
Aku hanya mengangguk dan kami pun sudah sampai didepan
sekolahku.
Selepas pulang sekolah menuju rumah, aku lihat ayah sedang
membawa barang yang tadi malam sudah dikemas naik ke atas mobil barang. Aku
lemas tak karuan harus meninggalkan rumah kecil ini, tapi semua keputusan ayah
dan ibu sudah bulat untuk pindah dari sini.
20 menit kemudian sampai lah kami didepan gang rumah baru
kami, aku tidak mau turun dari mobil menengok kesana karena masih sedih
meninggalkan rumah lamaku. Tapi terdengar suara laki-laki yang tidak asing
bagiku, ya suara om Irfan.
“Kamu ga turun ren?”. tanya nya
“Engga mau om, aku mau tinggal dirumah lamaku saja” .
jawabku dengan suara lemah
“Loh kok gitu, ayo om gendong sini kita liat rumah baru mu”.
Sambil menjulurkan tangan kearahku
Karena aku tidak enak, akhirnya aku menuruti kemauan om
Irfan dan digendongnya aku, tapi tidak
lama karena aku malu dilihat para
tetangga baruku.
Diujung gang ku lihat ada ibu dan anaknya sedang membantu
keluargaku untuk memindahkan barang ke dalam rumah, mereka nampak sudah akrab
juga dengan ibu dah ayahku. Dan ternyata mereka adalah tetangga baru samping
rumahku.
Ya, mereka adalah keluarga dari om Irfan yaitu istri dan
anak nya, Ari namanya...
Sampe sini dulu ya teman..
Berlanjut ke part 3...

0 Response to "Rendy Lucky's Part 2"
Post a Comment