picture by luckyboysunday.dk
Perkenalanku dengan Adi relatif singkat, dan kami menjadi
sahabat sampai sekarang walau banyak perbedaan dari kami.
Satu minggu dari perpindahanku kerumah baru saat hendak
berangkat sekolah, ada yang lupa dari ingatan. Ku lihat ayah sudah berpakaian
rapih seperti orang kantoran lengkap dengan sepatu hitam yang sedang
disemirnya, ah iya rupanya aku lupa bahwa ayah kemarin mau menceritakan tentang
pekerjaannya, dan tanpa ragu aku bertanya
“Yah, kok rapih banget? Mau ngelamar kerja?”. Tanyaku dengan penasaran
“Ayah ga ngelamar, hari ini udah langsung kerja”. Jawabnya
dengan tersenyum
“Alhamdulillah, kerja di kantoran yah? Wih enak banget dong
kerja di tempat dingin terus”
Tak lama, om Irfan datang kerumah dengan motor antiknya.
“Ayo pak,kita naik motor saja biar cepat sampai”. Ajaknya
dengan terburu-buru tanpa turun dari motornya
“Iya pak, ayo ini saya sudah siap”. Sahut ayahku yang tak
lama langsung berangkat
Pagi berganti siang, siang berganti sore. Aku duduk didepan
rumah dengan menggendong adik kecilku, tak lama ayah pulang dengan berjalan
kaki. Tak banyak bicara ayah langsung bergegas membersihkan diri kemudian duduk
disampingku dan termenung terdiam seperti ada yang dipikirkan.
“Kenapa yah diem aja, tumben? Kerjanya lancar yah hari ini?”.
Heranku dengan basa basi
“Nak, ayah masih ga percaya”. Dengan tatapan kosongnya
“Ga percaya gimana? Kenapa sih kok ga kaya biasanya yah?”
“Om Irfan nak”
“Om Irfan? Kenapa yah om Irfan?”
“Om Irfan ternyata..”
“Iya kenapa yah?”
“Ternyata dia pimpinan dari perusahaan baru ayah ini nak”.
Masih dengan tatapan kosongnya
“Ayah ga nyangka dia pimpinan perusahaan itu, dia yang bawa
ayah kerja disana dan langsung jadi pegawai tetap disana”.
“Rumah ini juga untuk kita tempati karena rumah ini milik
perusahaan itu, selama ayah kerja disana kita bisa tinggal disini gratis”
Akupun hanya bisa berucap syukur karena ayah sekarang sudah
punya pekerjaan tetap dan perusahaan itu adalah salah satu perusahaan bonavit
di kota ini. Tak disangka aku kira om Irfan bukan orang baik karena telah
pindahkan kami dari rumah yang dulu, yang terkesan rumah kumuh dan jorok. Dan sekarang
kami tinggal dirumah yang bersih, asri, nyaman dan jauh dari kesan kumuh dan
kotor.
Om Irfan orang baik, aku sangat beruntung telah bertemu
dengan dia. Percaya atau tidak, sesudah kesukaran pasti ada kebahagiaan jika
kita tetap dijalan Allah. Mungkin ini jawaban atas segala doa orang tuaku, ini
adalah hadiah dari Allah untuk keluarga kecil kami, dan om Irfan perantaraNya.
Inilah ,mengapa aku di beri nama Rendy Lucky. Mungkin karena
orang tuaku ingin aku menjadi anak yang beruntung dikemudian hari. Beruntung
dalam segala hal agar aku bisa menjadi manusia berguna dan sukses untuk semua.
Cerita tentang Rendy masih belum selesai loh teman..
Ini baru cerita awalnya ajaa, masih banyak yang mau
diceritakan tentang kehidupan mulai dari masuk SMP, SMA. Yaaa pokoknya banyak
deh hehehe..
See you !

0 Response to "Rendy Lucky's Part 3 (End)"
Post a Comment