picture by f.tqn.com
Halo teman, entah dari mana aku akan mulai bercerita tentang kehidupanku.
Aku ini adalah anak dari orang tua yang dipandang di daerah Banten, selain karena orang tua ku kerja di perusahaan benefit dengan gaji yang lumayan, orang tua ku mempunyai bisnis properti di beberapa daerah, seperti di Lampung dan Banten.
Oya, aku ini anak blasteran dari Pulau Sumatra dan Jawa. Lahir di Lampung sampai aku berumur 4 tahun aku tinggal di sana, dan orangtua ku memutuskan untung pergi merantau ke Tangerang untuk bekerja.
Daaaaan, panggil aku Rendy.
Keseharian ku sekarang hanya kuliah, menulis, menuangkan isi hati dan pikiran, menuangkan segala gundah gulana dalam menghadapi kehidupan, meluapkan segala emosi dalam bentuk tulisan disini. Sekarang aku sedang kuliah di salah satu Institut di Jakarta semester 5.
Sejak kecil aku di didik untuk menjadi manusia yang tahan banting, hemat, pandai bersyukur, mandiri dan cerdas. Waktu kecilku dihabiskan untuk sekolah pada pagi hari dan ketika sore hari aku mengaji di madrasah dari senin sampai sabtu. Hari minggu pun aku harus membantu ibuku jualan es mambo / es lilin berkeliling kampung sekitar rumah karena ekonomi keluargaku saat itu sedang goyang sebab ayahku masih menjadi karyawan baru di perusahaan nya dan gaji nya masih belum memadai. Tapi Alhamdulillah keluarga ku tidak perah terlilit hutang walaupun dalam ekonomi kepepet.
Kalau diingat, uang jajanku selama SD hanya 500 rupiah perhari. Meski begitu aku harus pintar menyisihkan 100-200 rupiah untuk ku tabung setiap hari untuk membeli barang atau mainan yang ku inginkan. Untuk tambahannya ibu memberi upah dari hasil jualan es lilin yang ku jual setiap hari minggu. Pernah suatu hari minggu aku sedang keliling kampung, ada anak seusia ku mengejekku
"Eh ada tukang es noh, kaga malu apa lu masih kecil udah jualan es, gedenya jualan kulkas kali lu hahaha".
Aku hanya bisa menunduk ketika melewati segerombolan orang itu dan berbicara dalam hati
"Aku berbeda dari kalian yang hanya bisa meminta dan merengek ke orangtua kalian".
Aku pulang dengan raut muka kesal dengan ada 2 batang es lilin dan uang 5000 rupiah di termos yang ku bawa, lalu aku menghampiri ibuku yang sedang didapur dan memberi hasil jualan es hari ini.
Ibuku bertanya
"Kamu kenapa cemberut begitu ?"
Aku : " Gapapa bu, tadi ada yang usil aja ngeledek aku masih kecil katanya udah jualan es"
Ibu : " Ya biarin aja, kamu sabar aja jangan sampe berantem ya nak cuma gara-gara orang ngeledek kamu, kamu itu spesial nak ibu bangga sama kamu"
Aku hanya bisa mengangguk dan bergegas mandi karena waktu sudah menunjukan 16:30
Memang aku masih belum mengerti apa yang dimaksud ibu tadi, tapi sekarang aku sudah mengerti apa yang ibu bilang aku anak yang spesial..
Minggu demi minggu ku lalui dengan kegiatan itu-itu saja, sampai pada suatu minggu di bulan maret aku yang sedang menjajakan es lilin tiba-tiba ada yang memanggil dari arah rumah gedong.
"es nya dek", tenyata bapak-bapak yang memanggil
"iya pak, mau rasa apa ?"
"ada rasa apa dek?"
"tinggal rasa durian, nanas, sama pandan pak"
"yaudah rasa durian ya dek saya beli 2".Lalu aku bergegas mengambil es nya
"ini pak" sembari mengeyerahkan es nya
"oiya dek, ini uangnya". Beliau menyerahkan uang 10 ribu
"pak maaf kembaliannya belum cukup nih, saya ambil dirumah dulu ya pak kekurangannya"
"loh memangnya rumah kamu dimana dek?"
"di gang M pak, saya titip termos es saya ya pak disini". Gang M ini dikenal dengan rumah-rumah yang lusuh dan rumah yang tidak layak huni.
"jauh itu dek" aku hanya bisa menunduk karena tidak punya kembaliannya
"yaudah kembaliannya kamu ambil aja, anggep aja itu hadiah buat kamu" tutur beliau
aku yang semula menunduk, tiba-tiba menatap bapak itu. Dan disinilah awal kedekatan ku dengan beliau.
"terlalu besar ini pak"
"gapapa dek saya menghargai perjuangan kamu dari pagi muter-muter keliling kampung buat jualan".
"namamu siapa?" tanya beliau
"namaku Rendy pak, kalo bapak siapa namanya?"
"panggil aja om Irfan"
"terima kasih om Irfan, ibu pasti sangat senang"
"ibu kamu kerja Ren?"
"tidak om, ibu mengurus rumah karena ada adik saya masih bayi. Hanya ayah yang bekerja"
"ayahmu kerja dimana?"
"di pabrik *** om"
"mmhhh, kamu bantu ibu kamu jualan ga malu dek?"
"engga om, karena dari sini saya bisa dapat tambahan uang jajan dari upah ibu"
"anak yang rajin ya kamu, kalo gitu om boleh tau rumah mu?" sambil mengelus kepala ku
"boleh om, tapi maaf kalo rumah saya berantakan dan sempit ga kaya rumah om"
"santai aja dek, saya cuma mau bertemu orang tua mu"
"baik om, mari.." ajakku
Akhirnya kami ke rumah ku dengan berjalan kaki beriringan sembari Om Irfan membawa termos es ku. 20 menit kemudian sampai lah kami dirumahku lalu om Irfan bertemu dengan ibu, tak kusangka ternyata ibu sudah mengenal om Irfan, mereka pernah satu sekolah sewaktu SMA dulu di Lampung , tampak mereka sangat akrab.
Hampir setiap minggu om Irfan main kerumah ku, dirumah hanya ada ibu dan adik kecilku yang masih bayi. Aku tidak menaruh rasa curiga karena om Irfan orangnya baik dan friendly. Sampai suatu minggu ketika om Irfan bertemu dengan ayah ku yang baru pulang kerja...
To be continue teman...
Cek di Part 2 yaaa...

0 Response to "Rendy Lucky's Part 1"
Post a Comment